Suatu Sore di Rotterdam

Jingga menghantar riuh menyelinap dari sela tembok tua pannyua
setiap orang sibuk mencari peradaban pada kotak dengan susunan rapih berwarna biru tua
Aku hanya menelan pahit dari pangkal lidah yang manisnya sudah kutaburi di setiap kata pada secarik kertas
Ia melewatkan percakapan tentang pasangan kekasih yang bercumbu di atas buku yang hurufnya berhamburan dalam kepala seorang penyair
Seorang lagi takluk termakan buaian para durjana
Yang setiap pekan menitipkannya setumpuk kertas dengan nominal yang menyertainya
Hiruk-pikuk kota tak lagi memberi gizi pada anak-anak pejuang jalan
Sedang pantai ditimbun tanah yang melumat rejeki para nelayan

Belakangan ini senja luntur
Kerna gedung-gedung angkuh menghalangi indah pancarannya
Wajah pengumbar janji berjejer rapih mengisyaratkan dimulainya tahun demokrasi
Tapi tembok tua pannyua,
Hanya jadi penghias wajah setiap perhelatan menuju kota dunia

5 Mei 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saat Senja

Puncak Sang Dewa

Sang Waktu