Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Sang Waktu

Diam-diam kurapikan waktu Yang berserakan di ujung hari Malam telah tiba Dan jam di ruang tengah menunjukkan pukul 12.01 "kau butuh kopi untuk mengusir sepi" kata sang waktu "Aku tak butuh apapun selain hati" jawabku dan memalingkan wajah yang letih Di beranda rumah Aku membaca koran tua Yang hurufnya sudah rontok Hampir saja hurufnya berhamburan di lantai yang isinya belum juga bisa kugapai Tepat pukul 02.00 dini hari Aku lelah. "Ketulah!" kata waktu sembari tertawa "Ah cerewet kau tahu apa" menyanggah. Lalu sang waktu pergi dengan angkuh Dan berkata "aku yang lebih tahu" 09 Oktober 2017

Saat Senja

Menepilah saat senja tiba Di labuhku. Tanggalkan segala jemu dirimu Sebab riuh pulau memecah hening sore Bila saatnya menepi Menepilah. Agar ombak ragu pecah Jikalau senja tak menyapa esok hari Janganlah ragu menyelimuti dirimu Tetaplah mencari gairah segar kehidupan Semakin dalam duka, Menggoreskan luka, Pada sukma, Janganlah risau engkau rasa. Kerna rona jingga senantiasa kujaga Tetaplah indah laksana senja. 21 Oktober 2017

Suatu Pagi di Paotere'

Sejak dini hari orang-orang itu saling berjibaku demi sesuap nasi Mencoba peruntungan demi anak dan istri Tawar menawar tak asing di tempat ini, yang memecah keheningan pagi Guyonan nakal mengalir di sela-sela penjual dan pembeli Ibu-ibu sibuk kasak-kusuk perihal kehidupan Dan anak-anak ceria bermain di tengah kerumunan Sedang bapak-bapak berparas lusuh Kerna hutang yang menumpuk sedang uang tak ada di saku Ada juga penjual yang sibuk melempar harga manis agar jualan laris Dan nelayan rela berbau amis Asal lapar tak buat anak menangis 14 Oktober 2017

Puncak Sang Dewa

Ia kokoh memaku jawa Dalam dekapan ibu pertiwi Di pagari hutan satu persatu Bertabur bintang membentang seluas mata memandang Kabut berarak melayang Tampaklah danau luas nan megah Tempat berkumpul sekelompok petualang Dengan semangat pada setiap langkah Dingin tak buat petualang berhenti Mencari keindahan duniawi Di tempat berkumpulnya dewa-dewi Di puncak mereka tambatkan hati Agar raga dapat kembali Agar kisah sang dewa kan tetap abadi 11 Januari 2018

Ia di Akhir Oktober II

Rinai hujan berjatuhan Menyeka rerumputan Bergegas menyapa desember Kala aku masih meninggalkan ingatan pada september Dan mereka menyambut peradaban Pada kota dengan berjuta harapan Memapah rindu pulang ke pangkuannya Mendekap hangat dalam rayuannya Menyulut makna di setiap langkah dengan tatap laksana senja. tanah menengadah menatap pelan ke arah surya beranjak pergi ketika bulan hendak menyapa. Perlahan tersungkap makna yang hadir bersama harap Tentang aku yang belum usai bertualang Atau kau yang tak kunjung mengerti tentang arti kepulangan. 24 November 2018

Ia di Akhir Oktober I

Setiap akhir hari ia datang Lalu pulang saat petang Menyeka langit diantara mega-mega Bicara tentang rinai hujan yang tertunda Hingga desember menyapa. 20 November 2018

Kau Yang Menunggu Hujan

Hujan berkelebat jatuh Beribu, Berbuih, Sedang engkau termangu sendiri di siang hari Dengan hujan yang tak henti menari Yang setia kau tunggu sekuat diri "Lebih indah menyaksikan hujan jatuh" Katamu, Meski ia senantiasa buatmu jemu Dan ada sedikit haru dari mata itu Mata yang rela merindu. Lalu engkau luruskan tanya dengan seru Agar mereka berhenti bertanya perihal menunggu. 19 Desember 2017

Suatu Sore di Rotterdam

Jingga menghantar riuh menyelinap dari sela tembok tua pannyua setiap orang sibuk mencari peradaban pada kotak dengan susunan rapih berwarna biru tua Aku hanya menelan pahit dari pangkal lidah yang manisnya sudah kutaburi di setiap kata pada secarik kertas Ia melewatkan percakapan tentang pasangan kekasih yang bercumbu di atas buku yang hurufnya berhamburan dalam kepala seorang penyair Seorang lagi takluk termakan buaian para durjana Yang setiap pekan menitipkannya setumpuk kertas dengan nominal yang menyertainya Hiruk-pikuk kota tak lagi memberi gizi pada anak-anak pejuang jalan Sedang pantai ditimbun tanah yang melumat rejeki para nelayan Belakangan ini senja luntur Kerna gedung-gedung angkuh menghalangi indah pancarannya Wajah pengumbar janji berjejer rapih mengisyaratkan dimulainya tahun demokrasi Tapi tembok tua pannyua, Hanya jadi penghias wajah setiap perhelatan menuju kota dunia 5 Mei 2018

Nelayan

Dari hulu Ia berseru akan pulang sebelum larut Harap musnah seiring lautan yang surut Kerna pulang hanya membawa tawa Dengan segenggam kecewa 5 Juli 2018

Ranu Kumbolo II

Di bulan ke sebelas Ku biarkan dinginnya membekas Agar rindu mudah ku kemas 11 Januari 2018

Ranu Kumbolo I

Pagi memancar cerah pada hamparan sabanah Corak jingga membentang seluas mata memandang Lirih bisikan itu terus memangggilku pulang Tapi tak ingin henti ku bertualang tetap kuingin hilang Hilang dalam dekapan dingin, kembali di tuntun arah mata angin Kurengkuh jiwa dalam setiap langkah Agar tak sesat di makan lengah Aku hanya mencari arti Dalam tubuh yang tak henti pergi Bersama doa yang setia mengiringi Getir mimpi membalut diri dalam lamunan Membelokkan haluan Mengalamatkan jalan menuju puan. Jejak demi jejak Kutinggalkan di setapak Ku harus beranjak. Ingin ku dekap dalam haru Membawa pulang rindu Agar dirimu tak hilang dalam semu. 13 November 2017